Kebenaran Badai Matahari 2011

•Minggu, Maret 14, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

Fenomena galaksi yang sedang meluncur menghantam bumi ini bukan cerita untuk menakuti-nakuti saja melainkan sebuah kenyataan yang harus diantisipasi. Pada 1908 silam, sebuah meteorit komet setinggi kurang lebih 200 kaki (± 60 m) pernah melintasi lapisan atmosfer, dan mengenai kawasan, Siberia, akibatnya terjadi ledakan di kawasan tersebut. Menurut perhitungan astronom bahwa peristiwa sejenis akan terjadi setiap 100-300 tahun. Peristiwa ini, seandainya terjadi di samudera atau daerah yang jarang penduduknya, yang mana meskipun rasio kemungkinan manusia terhindar dari bencana ini sedikit lebih besar, namun ilmuwan mengatakan: terhadap planet besar, tidaklah penting di mana posisi yang diterjang mereka. Jika meteorit selebar ½ mil (± 800 m) menabrak bumi (± setiap 250 ribu tahun) meski tidak sampai menyebabkan kepunahan seluruh umat manusia, namun cukup memusnahkan pembangunan peradaban umat manusia sekarang. Sebuah meteorit selebar 5 mil menabrak bumi dapat menimbulkan gempa, tsunami, letusan gunung berapi, dan mengakibatkan kepunahan yang lebih dahsyat, sama seperti akhir jaman dinosaurus. Pada 1994 silam, ilmuwan berhasil mengamati seluruh proses tabrakan Comet Shoemaker-Levy 9 dengan Jupiter, ini menjelaskan bahwa planet menabrak bumi bukan tidak mungkin, juga bukan peristiwa mengerikan yang baru akan terjadi ratusan tahun kemudian. Selama beberapa tahun terakhir ini, matahari sudah memasuki perubahan periodik medan magnetik yang terjadi setiap 10-11 tahun. Dalam masa demikian, partikel dan pancaran kemungkinan akan menerpa ke bumi dengan kecepatan 1juta km/jam. Dan ancamannya terhadap bumi, adalah suatu hal yang tak dapat diperhitungkan para ilmuwan. Pada April 2001 silam, sebagaimana yang diperkirakan ilmuwan, telah terjadi ledakan bintik matahari yang dahsyat di permukaannya, dan ini merupakan salah satu ledakan terbesar yang tercatat selama ini, untungnya solar Flare (letusan gas matahari) tidak mengarah ke bumi Karena itu sebagian besar energi yang dilepaskan letusan protuberan tidak akan sampai menerjang bumi. Letusan protuberan atau gas matahari disebabkan ledakan tiba-tiba dari energy magnetic Letusan ini dapat menambah kecepatan gerak partikel matahari hingga mendekati kecepatan cahaya dalam beberapa detik, sekaligus membuat suhu di permukaan matahari naik hingga jutaan derajat. Laporan akan gempa di matahari itu akan menghantam bumi di tahun 2012 semakin santer saja di internet, perhitungannya, menurut Deputi Bidang Sains Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Bambang S Tedjasukmana, fenomena yang dapat diprakirakan kemunculannya pada sekitar tahun 2011-2012 adalah badai Matahari. Prediksi ini berdasarkan pemantauan pusat pemantau cuaca antariksa di beberapa negara sejak tahun 1960-an dan di Indonesia oleh Lapan sejak tahun 1975. Dijelaskan, Sri Kaloka, Kepala Pusat Pemanfaatan Sains Antariksa Lapan, badai Matahari terjadi ketika muncul flare dan Coronal Mass Ejection (CME). Flare adalah ledakan besar di atmosfer Matahari yang dayanya setara dengan 66 juta kali ledakan bom atom Hiroshima. Adapun CME merupakan ledakan sangat besar yang menyebabkan lontaran partikel berkecepatan 400 kilometer per detik. Gangguan cuaca Matahari ini dapat memengaruhi kondisi muatan antariksa hingga memengaruhi magnet Bumi, selanjutnya berdampak pada sistem kelistrikan, transportasi yang mengandalkan satelit navigasi global positioning system (GPS) dan sistem komunikasi yang menggunakan satelit komunikasi dan gelombang frekuensi tinggi (HF), serta dapat membahayakan kehidupan atau kesehatan manusia. ”Karena gangguan magnet Bumi, pengguna alat pacu jantung dapat mengalami gangguan yang berarti,” ujar Sri. (Pakar Bisnis Online)

Potensi Gempa dan Tsunami di Padang

•Sabtu, September 5, 2009 • 7 Komentar

Pada kunjungan bersama Tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara-Wanadri di Pulau Sibarubaru, Pagai Selatan, awal Juni 2008, Kompas melihat fenomena alam menakjubkan. Garis pantai maju ke arah laut hingga sekitar 500 meter dengan hamparan terumbu karang yang telah mati.

Daratan terangkat sekitar 1 meter dari sebelumnya. Di sela-sela karang mati itu mulai tumbuh tanaman bakau.

Menurut Komandan Operasi Tim Ekspedisi Garis Depan Nusantara Haris Mulyadi, pemandangan serupa terlihat di Pulau Mega, Bengkulu. Ketinggian karang yang terangkat mencapai 1,5 meter, memajukan garis pantai ratusan meter.

Di dusun Lakau dan Limosua, Pagai Selatan, sekitar 40 menit perjalanan laut dari Pulau Sibarubaru, penduduk kesulitan merapatkan sampan akibat terangkatnya terumbu karang. Kenaikan daratan juga menyebabkan Sungai Lakau mendangkal.

Akibatnya, sungai tak lagi bisa dilewati perahu bermesin tempel seperti sebelumnya. Warga juga tak bisa lagi menjala ikan yang dulunya berkembang biak di sana. Menurut warga, kedalaman sangai itu dulunya mencapai 2 meter. Kini kurang dari 1 meter.

Bagi pakar gempa dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Danny Hilman Natawidjaja, fenomena itu biasa dijelaskan secara geologi. Penelitiannya bersama peneliti dari California Institute of Technology menemukan lebih dari satu siklus gempa bumi di kepulauan itu, masing-masing tahun 1300, 1600-an, 1797, dan 1833.

Berdasarkan kajian siklus gempa di pulau-pulau barat Pulau Sumatera, terangkatnya daratan perlahan-lahan diikuti penurunan. Kisaran penurunannya antara 1 cm hingga 1,5 cm per tahun.

Mengacu siklus gempa yang telah terdeteksi, penurunan gempa akan mencapai titik jenuh dalam tempo 200 tahunan, dengan kisaran penurunan daratan (pulau) antara 2 meter hingga 3 meter.

Dari hasil Ekspedisi kelautan Pre-Tsunami Investigation of Seismic Gap atau PreTI-Gap di perairan Kepulauan Mentawai, Sumatera, yang berakhir Kamis (6/3/08), menemukan adanya potensi lain yang bisa memicu timbulnya tsunami di sekitar pantai Padang.

Sumber dari munculnya tsunami itu adalah longsornya lereng bawah laut di bagian tenggara gugusan pulau di wilayah pesisir Padang.

Ekspedisi dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bekerja sama dengan Institut de Physique du Globe (IPG) de Paris sejak 15 Februari 2008 untuk mempelajari kesenjangan seismik antara Pulau Siberut dan Pagai. Riset ini bagian dari proyek Sumatera-Andaman Great Earthquake (SAGE), dengan lebih dari 50 peneliti dari 16 institusi internasional, termasuk Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Pusat Penelitian Geologi Kelautan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, serta Departemen Kelautan dan Perikanan. Proyek ini didanai Kementerian Luar Negeri Perancis melalui program Delegasi Antarpemerintah setelah Tsunami Aceh 2004.

Data itu menunjukkan, ada serangkaian sesar anjak aktif (back thrust) di timur laut Kepulauan Mentawai yang dapat menimbulkan tsunami akibat aktivitas gempa di zona subduksi lempeng Indo-Australia terhadap Eurasia.

Lereng di sesar anjak itu diketahui runtuh selama gempa tektonik tahun 2004, 2005, dan 2007. ”Kami menemukan pula bebas tanah longsor bawah laut yang sangat besar terkait dengan gempa-gempa itu,” ujar Profesor Satish Singh dari IPG Paris. Ada kemungkinan longsoran ini penyebab tsunami tahun 1797 di Kota Padang setinggi 5 meter.

”Bagian terpenting di tenggara Kepulauan Mentawai yang diteliti menunjukkan, daerah rawan tanah longsor bawah laut yang mungkin terpicu bila terjadi gempa bumi. Sangat penting dilakukan penelitian lebih lanjut di daerah ini untuk keperluan mitigasi tsunami akibat longsoran bawah laut,” ujar Singh yang memimpin ekspedisi tersebut.

Haryadi Permana, peneliti Puslit Geoteknologi LIPI, mengatakan, pengetahuan soal tsunami akibat longsoran bawah laut menjadi dasar mendesain ulang sistem peringatan dini tsunami, jalur evakuasi, dan mitigasinya. Ancaman tsunami itu ditemukan di bagian timur laut Kepulauan Mentawai sekitar 700 kilometer.

Dua potensi tsunami

Menurut Danny Hilman, pakar tsunami dari Puslit Geoteknologi LIPI, potensi sesar busur belakang ditemukan di Pulau Simeulue dan Pulau Nias. Pengaruh back thrust menimbulkan fenomena naiknya daratan bagian timur kedua pulau itu. ”Ini merupakan paradoks karena pasca- gempa 2004 yang naik adalah bagian barat pulau,” kata Danny.

Dia mengingatkan, perlu ditingkatkan kewaspadaan pada dua potensi tsunami. Tsunami akibat gempa di zona pertemuan dua lempeng dan tsunami akibat longsoran bawah laut.

Gempa berskala kecil hingga sedang hingga Kamis (6/3) masih terus terjadi, sebagian besar tercatat di sekitar Pulau Sipora. Melihat rekaman pusat-pusat gempa, lokasinya berada di bagian tepi segmen kegempaan yang berada di bawah Pulau Siberut, yang belum pernah melepaskan energi. Segmen Kegempaan Pagai telah melepas sekitar 40 persen energinya pada gempa tahun lalu. ”Indikasi ini hendaknya dijadikan dasar meningkatkan kewaspadaan masyarakat dan Pemda Padang,” ujar Danny yang meneliti kawasan barat Sumatera lebih dari satu dasawarsa.

Tsunami akibat longsoran bawah laut itu, katanya, untuk sampai di pantai timur kepulauan hanya butuh beberapa menit. Perambatan gelombang perlu waktu sekitar 15 menit untuk sampai di pantai Padang.

Tumbukan lempeng

Fenomena penurunan daratan di sisi barat Sumatera disebabkan tumbukan lempeng–lempeng samudra (di dasar Samudra Hindia) menekan lempeng benua di bawah daratan Sumatera. Seiring waktu, tekanan lempeng samudra itu akan melampaui kekuatan lempeng benua untuk menahannya.

Begitu tak tertahankan, pecah dan bergeserlah lempeng benua diikuti getaran yang disebut gempa bumi. Di lautan lentingan lempeng benua akan mengguncang lautan yang diikuti tsunami dan meninggalkan fenomena alam berupa terumbu karang menjadi daratan.
Informasi yang diperoleh Danny, lentingan lempeng benua pernah menyebabkan terangkatnya daratan (pulau) Pagai setinggi 3 meter. Fenomena naiknya terumbu karang hingga 1,5 meter, seperti yang terjadi saat ini, belum merupakan puncak.

Menurut Danny, tidak setiap terjadinya lentingan menunggu titik jenuh tumbukan. Bagian lempeng benua dapat terlepas lebih awal (sebelum siklus 200 tahunan).

Hanya, fenomena itu berdampak kecil, di antaranya disertai magnitudo gempa yang kecil dan rendahnya tsunami.

Fenomena lepasan “kecil” itulah yang disinyalir muncul sebagai gempa Nias, Maret 2005, dan gempa Bengkulu, September 2007.

Menurut catatan sejarah, setidaknya pernah terjadi dua kali gempa besar di gugusan Kepulauan Mentawai, yaitu tahun 1797 berkekuatan 8,3 skala Richter (SR) di Pulau Sipora dan gempa berskala 8,5 SR yang menghantam Pulau Pagai pada tahun 1833 silam.

Potensi terbaru

Saat ini dari lima pulau besar di gugusan Kepulauan Mentawai hanya daratan Pulau Sipora dan Siberut yang belum mengalami pengangkatan daratan.

Mengacu siklus 200 tahunan, hal itu menjelaskan bahwa segmen lempeng benua di bawah dua pulau itu masih sanggup menahan tumbukan lempeng benua. Berbeda dengan kejadian di kawasan Pulau Mega serta Pagai Selatan atau di kawasan Simeulue dan Nias.

Dengan kata lain, potensi lentingan di kawasan Sipora dan Siberut sudah dalam taraf “hamil tua”. Bila itu terjadi, bukan tidak mungkin menggerakkan segmen lainnya.

Menurut Danny, penjelasan potensi itu disebabkan episentrum gempa bukan berupa titik, tetapi sebuah bidang.

Episentrum gempa sebagai sebuah bidang itulah yang menjelaskan mengapa daratan di Simeulue (akibat gempa Desember 2004) terangkat, disusul peristiwa serupa di Nias tiga bulan kemudian (gempa Maret 2005). Artinya, pergeseran segmen lempeng tertentu akan diikuti segmen lain untuk mencapai titik keseimbangan.

“Melihat fenomena itu, terangkatnya daratan di Pulau Mega hingga Pagai Selatan masih akan diikuti kejadian serupa di Pagai Utara, Sipora, atau Siberut. Hanya, tak tahu kapan waktunya,” ujarnya. Mengacu peristiwa Nias, hanya membutuhkan waktu tiga bulan menyusul Simeulue.

Memicu tsunami

Yang patut dikhawatirkan adalah bila pusat gempa bumi berada di bawah Selat Mentawai. Hal itu akan memicu tsunami besar yang mengancam Pantai Padang yang berkontur datar dan tidak terlindungi.

Kekhawatiran dengan kadar berbeda bila pusat gempa berada di sisi barat kepulauan Mentawai, di mana tsunami ke arah Padang telah terlindungi pulau-pulau. Akan tetapi, mengancam penduduk di pesisir barat Mentawai.

Kini siklus gempa sudah terdeteksi melalui “garis tahun”terumbu karang yang mati dan informasi pergerakan muka bumi melalui alat global positioning system. Akan tetapi, prediksi waktu yang tepat datangnya gempa tetap belum dapat dicapai.

Sekalipun belum jelas kapan datangnya gempa, kesiapsiagaan perlu dibangun demi keselamatan warga pesisir. Tujuannya bukan hanya bagi warga di gugusan kepulauan di barat Pulau Sumatera, tetapi juga bagi warga yang bermukim di sepanjang pesisir pantai barat Sumatera, seperti Padang, Sibolga, hingga Bengkulu.

Posisi Pulau Sumatera, yang menjadi semacam “engsel” naik-turunnya daratan (pulau) di gugusan Mentawai, bukan berarti membebaskan daratan Sumatera dari dampak gempa bumi berpotensi tsunami. Apalagi, bila pusat gempa berada di bawah Selat Mentawai.

Berdasarkan teori siklus kegempaan, kawasan Nias Selatan dan Kepulauan Mentawai masih berpeluang dilanda gempa tektonik berkekuatan 7,7-8,5 SR.

Demikian disampaikan Koordinator Dewan Pakar Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatera Utara Ir Jonatan I Tarigan kepada Analisa di Medan.

“Gempa bumi terjadi di Nias Selatan tahun 1935 berkekuatan 7,7SR dan Mentawai tahun 1833 dengan kekuatan 8,5 SR. Maka berdasarkan teori perulangan gempa dengan rentang perualangan 70-200 tahun, kemungkinan terjadinya gempa bumi di Nias Selatan dan Mentawai masih sangat besar,” katanya.

Dijelaskan, terjadinya gempa bumi berkekuatan 9,2 SR yang mengguncang daerah NAD telah menimbulkan tsunami dan peremukan (ruptrure) sepanjang 1.300 kilometer di jalur patahan besar (megatrust) Samudra Indonesia-Australia.

Karena peremukan tersebut, lempeng bumi di jalur patahan tersebut akan terus mengalami pergeseran atau relaksasi untuk kembali menuju kondisi stabil.

Akibatnya, berbagai gempa terjadi di jalur itu, seperti gempa di Simelulue dan Nias tahun 2002, 2004 dan 2008 dengan kekuatan 7,2-7,4 SR.

“Berdasarkan jalur patahan yang dilaluinya, maka kemungkinan terjadinya gempa bumi di daerah Nias Selatan dan Kepulauan Mentawai masih sangat besar,” ujarnya.

Dia juga menjelaskan, bahwa gempa bumi yang terus menerus mengguncang kawasan Bengkulu dan sekitar Sumatera Barat bukanlah proses pelepasan energi di daerah jalur patahan besar Samudra Indonesia-Australia. Sebab pusat gempa berada di jalur patahan Sumatera.

Gempa Bengkulu menurutnya terjadi karena segmen patahan di daerah itu berkarakteristik patahan pendek. Sehingga rentang waktu perulangan gempa huga sangat pendek yaitu berkisar enam tahunan.

“Ini hampir sama dengan karakter patahan Parkfield di California Amerika Serikat dimana siklus kegempaan terjadi antara 20-22 tahun dengan kekuatan 6 SR,” ujarnya.

Dia juga mengingatkan, peluang gempa juga masih terjadi di kawasan patahan Renun, Toru dan Angkola. Sebab sesuai dengan siklus kegempaan maka gempa terjadi tahun 1936 di patahan Renun dengan kekuatan 7,2 SR, Toru tahun 1984 dengan kekuatan 6,5 SR.

Menurutnya, bencana gempa bukanlah sesuatu yang bisa ditawar-tawar, mengingat kondisi geografis Indonesia yang sebagai besar berada di jalur patahan.

Maka upaya mitigasi merupakan salah satu upaya yang paling memungkinkan dilakukan Pemerintah Kabupaten dan Kota untuk meminimalisir dampak bencana terutama korban jiwa dan harta benda.

“Sudah saatnya pemerintah menyusun peta bahaya gempa dan peta risiko bencana gempa bumi guna mengurangi dampak bencana yang timbul akibat gempa bumi,” sebutnya. (sah) (Analisa, 03/03/08)

Deputy Chairman Of Earth Sciences-LIPI J Sopaheluwakan mengemukakan, komunitas pakar gempa dan tsunami internasional menyatakan, Kota Padang merupakan daerah yang paling rawan terhadap potensi terjadinya tsunami di dunia. Pengulangan tsunami sekitar 200 tahun ke depan sejak terakhir terjadi tahun 1833.

“Analisa ini bukan isu, isapan jempol atau akal-akalan. Karena, yang memberikan penjelasan itu adalah para ahli dan tidak mungkin mereka bohong. Untuk itu perlu disikapi secara arif dan tidak perlu panik,” kata Sopaheluwakan di sela Pertemuan bertajuk “Internasional Meeting on Sumatran Earthquake Challenge” di Padang, Kamis (25/8).

Pertemuan yang berlangsung 24 sampai 28 Agustus itu dilaksanakan atas kerja sama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), California Institute of Technology (Caltech) dan Japan Society for Promotion of Science (JSPS).

Dalam pertemuan itu 60 pakar gempa bumi dan tsunami dari Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Prancis, Taiwan dan Indonesia, khususnya yang tertarik dengan masalah gempa dan tsunami di Sumatera, bertemu untuk mulai memikirkan permasalahan gempa dan tsunami bersama-sama dan langkah-langkah antisipasi di masa datang .

Mereka terdiri atas 35 pakar asing dan 25 pakar dalam negeri. Antara lain memiliki disiplin ilmu paleo-seismik, paleo-tsunami, seismologi, tektonik geodesi, engineering seismologi, earthquake engineering, tsunami early warning system (TWA) modern, dan pakar pendidikan masyarakat untuk masalah gempa dan tsunami.

Menurut Sopaheluwakan, potensi tersebut muncul karena didukung oleh populasi penduduknya yang paling padat dan dengan kondisi sosial ekonomi setempat.

Terkait atas analisa tersebut, menurut Sopaheluwakan, Padang harus mencermati sikap pemerintah Sizuoka (bagian selatan Tokyo) yang siap menunggu gempa dan tsunami dengan berbagai persiapan. Kondisi wilayah Sizuoko sama dengan Padang. Pemerintah di kota itu telah menyiapkan pusat komunikasi, logistik makanan yang disimpan sepuluh tahun serta penjernih air.

“Dengan memperkirakan ketinggian gelombang tsunami setinggi 9 meter, mereka juga membuat gunung-gunung buatan setinggi 11 meter dan memiliki rute evakuasi yang dilengkapi dengan tanda-tanda penyelamatan, serta membangun bendungan,” katanya.

Jika tsunami datang, kata Sopaheluwakan, hantaman gelombangnya akan dapat dihambat oleh penahan gelombang dilengkapi dengan “green belt”. Di situ, pemerintah membangun sebuah kota pengungsi di belakang pengunungan.

Lebih jauh ia menjelaskan potensi bencana gempa dan tsunami di Padang juga akan merambat ke kabupaten dan kota sekitarnya termasuk Pariaman, terus ke Bengkulu, Anyer, Lampung, dan Pelabuhan Ratu.

“Kita jangan panik, tapi lebih baik salurkan energi was-was itu menjadi persiapan dan setiap saat kita harus siap. Kondisi riilnya Padang memang akan ditimpa tsunami, di mana waktu perulangannya setiap 200 tahun sekali,” katanya.

Karenanya Pemko Padang sejak dini harus mulai melakukan berbagai langkah antisipasi antara lain membuat peta evakuasi. Kemudian, tata ruang dibenahi lagi, jalur-jalur pantai diperlebar, dan tetapkan bangunan tinggi yang layak menjadi tempat evakuasi vertikal.

“Bangun menara observasi di kawasan-kawasan yang paling rawan,” katanya seraya menambahkan, menara tersebut sekaligus bisa berfungsi sebagai objek pariwisata.

Dengan turut melibatkan seluruh masyarakat, kata Sopaheluwakan, LSM juga perlu dilibatkan untuk memasang poster-poster yang memuat sosialisasi dan pelatihan-pelatihan cara-cara mengatasi bencana. (dari berbagai sumber)

Dukun Cabul

•Jumat, Juni 26, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Dukun CabulDiduga melakukan pencabulan yang berujung perbuatan tidak senonoh kepada siswi kelas V SD, terdakwa Plister panggilan Iten (41), yang berprofesi sebagai dukun di Takkuman Desa Sioban Kecamatan Sipora Selatan Kabupaten Kepulauan Mentawai, diajukan ke persidangan di Pengadilan Negeri Padang, Kamis (25/06/2009).

Dalam dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Muldiana SH, perbuatan terdakwa melanggar pasal 81 ayat 2 dan pasal 82 Undang-Undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.

Perbuatan cabul yang berujung perbuatan tidak senonoh ini terjadi pada hari Minggu tanggal 1 Maret 2009 sekitar pukul 10.00 WIB.

Awalnya, orangtua korban mengalami kegelisahannya setiap hari tanpa ada kejadian yang menimpanya. Semula ia menduga, kegelisahannya disebabkan oleh sesuatu faktor yang tidak diketahuinya. Dalam kegelisahan ini, timbul inisiatif untuk berkonsultasi dengan dukun.

Orangtua korbanpun pergi ke rumah Dukun Iten yang telah diketahui warga Sioban yang bisa mengobati berbagai penyakit. Di tempat ini, orangtua korban menceritakan semua yang dialaminya.

Mendengar penuturan tersebut, Dukun Iten lalu mengeluarkan ilmu dukun yang dimilikinya. Ia mengatakan, kalau orangtua korban beserta seluruh anggota keluarga telah diguna-gunai oleh seseorang, namun guna-guna tersebut belum sempat mengenai orangtua korban beserta keluarganya.

Dukun Iten menyarankan kepada keluarga korban untuk melakukan pengobatan. Bahkan dukun ini juga mengatakan, korban harus diobati secepatnya, dan jika terlambat akan terkena penyakit gatal-gatal. Tanpa merasa curiga, orangtua korbanpun mengikuti keinginan sang dukun.

Tanggal 28 Februari 2009, korban beserta keluarga menemui Dukun Iten di rumah kediamannya di Km 2,5 Desa Tua Pijat Kecamatan Sipora Kabupaten Kepulauan Mentawai. Sesampainya disana, Dukun Iten mulai melakukan ritual pengobatan dengan memandikan kedua orangtua korban yang berpakaian lengkap dengan air yang telah dibaca mantra.

Sementara itu, korban dimandikan dalam keadaan tanpa sehelai benang yang melekat di badan, dengan air yang telah dicampur daun kayu yang telah dibaca mantra. Setelah itu, korban disuruh mengenakan pakaiannya kembali dan dukun ini lalu mengatakan kepada kedua orangtua korban, bahwa korban harus dilakukan pengobatan secara khusus untuk menghindari penyakit gatal-gatal.

Pada hari Minggu tanggal 1 Maret 2009 sekitar pukul 09.00 WIB, Dukun Iten mengajak korban ke pantai dengan jalan kaki untuk memulai pengobatan. Korban disuruh duduk diatas dahan kayu yang terletak di tepi pantai. Kemudian Dukun Iten membasahkan rumput yang bercampur daun-daunan dengan air laut, dan mengusapkan ke kepala korban.

Ketika proses ini berlangsung, korban sempat menanyakan penyakit apa yang dideritanya. Korban merasa heran, karena ia sama sekali tidak merasakan gatal-gatal seperti yang dijawab dukun.

Setelah menjalani proses ritual ini, korban diajak pergi ke tempat rerumputan yang berada di Dusun Jati, yang terletak sekitar 200 meter dari pantai. Di tempat inilah Dukun Iten melakukan pencabulan yang berujung melakukan perbuatan tidak senonoh kepada korban.

Dukun Item juga mewanti-wanti korban agar perbuatan yang dilakukannya tersebut tidak diberitahu kepada orangtua korban. Selanjutnya, Dukun Item bersama korban kembali ke rumahnya. Dukun Item lalu menemui tukang ojek yang tidak jauh dari rumahnya, lalu menyuruh tukang ojek tersebut untuk mengantarkan korban ke rumah orangtuanya.

Akibat kejadian ini, korban merasa ketakutan, trauma dan malu jika bertemu dengan orang lain.

Setelah mendengarkan dakwaan yang dibacakan JPU, akhirnya Majelis Hakim yang diketuai oleh Masrul mengundur sidang hingga Kamis (02/07/2009), dengan agenda mendengarkan keterangan saksi. (wan)

Siswi SMP Diperkosa Sebelum Dianiaya Hingga Tewas

•Selasa, Juni 16, 2009 • 6 Komentar
Digotong untuk divisum

Digotong untuk divisum

Siswi kelas 2D SMP Negeri 1 Padang, Anggreini Meiresky (13), warga Parak Salai Blok A Nomor 11 Padang ditemukan dalam sebuah karung di parak rumbio oleh seorang warga Korong Kabun Nagari Sungai Buluh, Kecamatan Batang Anai Kabupaten Padang Pariaman, Selasa (16/06/2009). Siswi ini ditemukan dalam keadaan sekarat dan mengenaskan, lalu tewas ketika dibawa ke Puskesmas Pasar Usang Padang Pariaman.

Dari kondisi tubuh korban yang dipenuhi sayatan ditambah mukanya yang lebam, kuat dugaan korban dibunuh oleh orang tukang ojek Ari (27). Sebelum dianiaya yang berujung tewas, diduga korban sempat diperkosa pelaku, karena di sekujur tubuhnya masih melekat percikan sperma. Selain itu, ditubuh korban juga ditemui luka bakar yang berasal dari puntung rokok.

Menurut pengakuan Ida (43), salah seorang warga setempat, ia sempat melihat seseorang pria yang tak dikenal membuang sebuah karung di parak rumbio sekitar pukul 12.15 WIB. Namun tak ada merasa firasat buruk, ia segera berlalu tanpa mengamati pelaku.

“Sewaktu saya lewat pakai sepeda motor, saya melihat ada seorang pria berkendaraan sepeda motor RX King membuang sebuah karung ke parak rumbio. Saya pikir yang dibuang pria ini adalah sampah, jadi saya tidak menghiraukannya. Wajahnya juga tidak terlalu jelas, karena mengenakan helm standar,” ungkapnya.

Penemuan korban berawal ketika salah seorang warga setempat hendak mengambil karung yang masih dalam keadaan baru dan bersih. Namun warga ini kaget, karena karung tersebut terlihat bergerak. Ia bertambah kaget, setelah melihat ada seorang perempuan muda dalam kondisi bugil dalam karung tersebut dengan posisi menelungkup. Tangan dan kaki terikat erat oleh seutas tali. Dalam karung tersebut juga ditemukan pakaian seragam sekolah korban yang dilengkapi dengan sepasang sepatu hitam.

Penemuan ini akhirnya diberitahukan ke warga setempat, dan tak lama kemudian tempat ini mulai dikerubungi warga. Untuk proses tindak lanjut, warga setempat lalu menghubungi Polsek Batang Anai.

Tak lama kemudian petugas langsung datang ke lokasi kejadian lalu mebawa korban ke Puskesmas Pasar Usang. Namun luka sayatan yang dialami korban, membuat nyawa anak pasangan Zaldinar dan Roslaini ini tak dapat tertolong lagi sebelum diberikan perawatan.

Tewasnya anak bungsu dari 3 bersaudara ini juga membuat gempar warga Kecamatan Batang Anai Padang Pariaman. Ratusan masyarakat memenuhi Puskesmas Pasar Usang untuk melihat kondisi korban yang bernasib malang itu. Kerumulan warga akhirnya bubar setelah korban dilarikan ke Rumah Sakit M Djamil Padang untuk divisum.

Sementara itu, keluarga korban tampak menangis histeris ketika korban berada di Rumah Sakit M Djamil Padang ini karena mereka tidak menyangka korban bernasib malang yang pergi untuk selama-lamanya dalam usia yang masih muda.  Diduga masih dalam keadaan shock, keluarga korban belum bersedia diwawancara wartawan.

“Kata keluarga korban, paginya anak ini masih sekolah. Tapi setelah kami cek daftar absen di sekolah, ternyata korban tidak sampai ke sekolah. Padahal, waktu itu sedang berlangsung ujian semester,” ungkap Indra, salah seorang guru SMP Negeri 1 Padang kapada Haluan kemarin.

Sejak Selasa sore, pihak polisi telah berhasil meminta keterangan sejumlah saksi yang salah satu dari mereka diduga kuat sebagai pelaku dalam kasus  ini. Dari keterangan warga dan keluarga serta pihak polisi, untuk sementara dicurigai pelakunya adalah tukang ojek yang sudah menjadi langganan untuk mengantarkan korban ke sekolah setiap hari, ditambah lagi pelaku adalah orang yang terakhir bersama korban pada pagi kemarin yang juga tempat tinggalnya berdekatan dengan rumah korban.   “Kasus ini masih dalam tahap penyelidikan. Sementara ini belum jelas apa motif yang dilakukan pelaku,” ungkap Kapolsek Batang Anai Padang Pariaman, Iptu Arsyal kepada wartawan.

Sementara itu dari hasil pantauan Haluan ke rumah duka Selasa malam hingga menjelang kedatangan jasad korban dari rumah sakit, sejumlah warga setempat dan rekan-rekan keluarganya serta sejumlah pihak polisi dari Polda Sumbar, Polres Batang Anai, dan Mapoltabes Padang telah mengerumuni rumah tersebut. Keadaan keluarga korban saat detik-detik kedatangan jasad perempuan belia itu pun sudah agak normal seperti biasa. (wan/che)

Anggraini Mayreski

Anggraini Mayreski

Tersangka Hari Buana atau Ari Petak (32)

Tersangka Hari Buana atau Ari Petak (32)

Tabur Gula Ala India

•Senin, Mei 25, 2009 • 3 Komentar
Berebut Gula Pasir

Berebut Gula Pasir

PADANG, Haluan Ribuan masyarakat di kawasan Pondok Kota Padang dan sekitarnya tumpah ruah berebut gula pasir yang diberikan secara cuma-cuma oleh perkumpulan orang India di Kota Padang di halaman Mesjid Muhammadan kawasan Pasa Batipuh Kelurahan Pasa Gadang Kecamatan Padang Selatan Kota Padang, Senin (25/05/2009). Pemberian gula pasir ini terkesan unik, karena sejumlah perwakilan keturunan India ditunjuk menaiki atap Mesjid kemudian melemparkan gula pasir tersebut ke masyarakat. Meski perebutan gula ini terlihat ada yang terjatuh dan terinjak, namun kegiatan ini berjalan aman dan lancar, tanpa ada korban jiwa maupun yang mengalami luka-luka. Menurut M.Hafiz Max (53), salah seorang sesepuh keturunan India di Kota Padang, kegiatan ini merupakan agenda komunitas orang India di Kota Padang yang dilaksanakan secara rutin satu kali dalam setahun. Kegiatan ini telah berlangsung beratus tahun yang lalu, dan secara turun temurun prosesi ini tetap dipertahankan dan dijalankan. “Kegiatan ini merupakan rangkaian Maulid Sahul Hamid yang bertepatan dengan penyambutan awal bulan Jumadil Akhir. Pemberian gula yang dikenal dengan serak gula atau tabur gula ini memiliki makna, agar masyarakat tehindar dari segala bahaya serta terciptanya keselamatan,” ujarnya. Menurutnya, dalam tradisi orang Islam India, ada 3 kegiatan maulid yang dilaksanakan. Yang pertama adalah Maulid Nabi Muhammad SAW. Sebulan setelah itu dilaksanakan Maulid Syeh Abdul Karim Jailani yang diyakini sebagai Wali Allah. Kemudian menyambut awal bulan Jumadil Akhir dilaksanakan kembali Maulid Sahul Hamid yang juga diyakini sebagai Wali Allah. Dalam rangkaian Maulid Sahul Hamid ini, kegiatan ini dimulai dengan pelaksanaan Shalat Ashar secara berjamaah yang dilanjutkan dengan doa bersama. Setelah ini, para peserta juga meminum air putih yang telah diberi jeruk nipis dan gula, yang mana air ini juga telah diberi doa-doa. Sebelum mengawali kegiatan tabur gula, komunitas ini memasang bendera dengan logo bulan sabit dan bintang sebagai simbol agama Islam. Bendera ini dipasang berjejer di samping kanan dan kiri Mesjid Muhammadan dan di atas mesjid pada bagian depan. Setelah itu, gula pasir yang telah dibungkus dengan kain yang beragam corak dan warna ini diangkat ke atap mesjid bagian depan. Di atas atap mesjid inilah sejumlah orang ditunjuk, melaksanakan tugasnya dengan cara melempar gula pasir ke arah masyarakat yang berada di bawah. “Gula pasir ini merupakan sumbangan dari anggota komunitas keturunan India di Kota Padang. Banyaknya gula dalam satu bungkusan tergantung individu orang yang menyumbang. Dalam kegiatan ini, ada sekitar 1 ton lebih gula pasir yang dikumpulkan dan diberi kepada masyarakat,” jelas M.Hafiz Max. Ia mengatakan, rangkaian Maulid Sahul Hamid di Kota Padang ini merupakan kegiatan satu-satunya yang dilakukan orang India di Indonesia. Dalam kegiatan ini juga dilakukan pembacaan Kitab Maulid yang mana kitab ini hanya terdapat di negara India dan Singapura. “Maulid ini berlangsung selama 10 hari, dan kegiatan ini merupakan hari perdana. Pada malam terakhir akan dilaksanakan pawai cendana dengan membawa cirano yang berisikan kayu cendana yang telah diiris memebentuk serbuk seperti tepung, yang juga disertai pembacaan ayat-ayat suci Alquran,” tambahnya. (wan)

Merekalah Yang akan Duduk di DPRD Sumbar

•Senin, April 27, 2009 • 2 Komentar

Gedung DPRD Sumbar

Gedung DPRD Sumbar

Empat partai politik peserta pemilu legislatif (pileg) 2009, berhasil mengantarkan tujuh legislator perempuan untuk DPRD Provinsi Sumbar. Ketiga partai itu yaitu, Partai Demokrat, Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Gerindra. Sedangkan enam partai lain yang juga berhasil menempatkan calegnya di DPRD Sumbar, tidak satupun dari caleg itu yang perempuan. Ke enam partai itu adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Hanura, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan Partai Bintang Reformasi (PBR).

Jika dilihat dari tingkat persentasenya, PAN mendapat posisi pertama. Sebab, dari enam orang caleg yang lolos, dua orang diantaranya perempuan. Yakni, Artati dan Lela Pujianti. Setelah itu baru Partai Demokrat, yang menempatkan tiga perempuan di DPRD Sumbar. Mereka itu adalah Ermawati Tanjung, Zahara Hasni dan Hasranita. Menyusul Partai Gerindra, dari empat kursi, satu orang perempuan. Yakni Ismarni, yang lewat dari daerah pemilihan (dapil) 4 Sumbar. Terakhir Partai Golkar dengan menempatkan Siti Izzati Azis.

Jika dilihat dari dapilnya, maka dapil yang paling banyak perempuan itu dari dapil 4 Sumbar. Dari dapil 4 Sumbar itu muncul empat legislator perempuan, yaitu Siti Izzati Azis, Zahara Hasni, Artati dan Ismarni. Jika dilihat dari jumlah perempuan yang duduk sekarang, maka untuk periode 2008-2014, terjadi peningkatan sebanyak 75 persen. Dimana saat ini hanya ada empat orang perempuan, dua dari PBB yaitu Rusda Khairati dan Salmiati. Satu orang dari PPP Isna Yulis dan Erwina Sikumbang dari PDI-P.

Dominan wajah baru

Sementara itu, Kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sumbar periode 2009-2014, didominasi oleh wajah-wajah baru. Dari 55 orang anggota DPRD Sumbar periode 2004-2009, hanya 14 orang yang mampu bertahan. Ke 14 orang tersebut memang terkenal piawai dalam berpolitik dan mengambil hati masyarakat. Disamping itu, dikepengurusan partai, mereka tergolong barisan terdepan, seperti menduduki jabatan ketua, sekretaris dan wakil ketua di partainya masing-masing.

14 orang itu terdiri dari partai Golkar, PAN, PKS, PBB dan Partai Demokrat. Dari Partai Golkar, Leonardy Hamainy yang saat ini memangkul jabatan ketua DPD Partai Golkar memperoleh suara di daerah pemilihan (dapil) 4 sebanyak 18.497 suara, Irdinansyah Tarmizi dari dapil 3 Sumbar duduk dengan perolehan suara sebanyak 19.999 suara. Ia saat ini juga menjabat sebagai Sekretaris Partai Golkar Sumbar.

Zailis Usman lolos di dapil 1 Sumbar dengan perolehan suara sebanyak 5594 suara. Ia merupakan ketua OKK Partai Golkar Sumbar. Saidal Masfiyuddin lewat dari dapil 2 Sumbar memperoleh suara sebanyak 14.100 suara. Yulman Hadi lewat dari dapil 5 Sumbar, memperoleh suara sebanyak 15321 suara dan Zulkenedi Said juga dari Dapil 5 Sumbar, dengan perolehan suara sebanyak 10.116 suara.

Sedangkan wajah baru dari Partai Golkar untuk DPRD Sumbar yaitu, Asril Kasoema yang lolos dari dapil 2 Sumbar, dengan suara 10571, Musmahizer Dt. Damuak dari dapil 3 dengan suara 9243, Siti Izzati Azis dari dapil 4 Sumbar, dengan suara sebanyak 7575

Dari Partai Amanat Nasional (PAN) hanya menyisakan Ketua DPW PAN Sumbar M. Asli Chaidir dengan suara sebanyak 21.614. Sebanyak 5 orang dari PAN termasuk wajah baru. Yaitu, Indra Dt. Rajo Lelo dari Dapil 1 Sumbar, dengan suara sebanyak 22970. Israr Jalinus dari Dapil 2 Sumbar, dengan perolehan suara sebanyak 6758. Lela Pujianti dari dapil 3 Sumbar dengan suara sebanyak 5522 suara, Artati dari Dapil 4 Sumbar mendapat suara sebanyak 6702 suara, Muzli M. Nur dari Dapil 5 Sumbar didapatkannya suara sebanyak 8.123 suara.

Begitu juga dengan PBB, hanya melewatkan Ketua DPW PBB Djonimar Boer. Supardi dari Dapil 5 Sumbar dengan suara sebanyak 4.070 suara, Maswar Mas’ud dari Dapil 2 Sumbar dapat suara sebanyak 5294 suara. Sepertinya PBB harus bergabung dengan partai lain untuk membentuk satu fraksi.

Sementara PKS, melewatkan 4 kadernya, yakni Moclasin dengan suara 6.943 dari Dapil 2 Sumbar, Sultani dari Dapil 3 Sumbar dengan suara sebanyak 9.396, Rafdinal dari Dapil 4 memperoleh suara 12641, dan Muslim M. Yatim dari Dapil 5 dengan perolehan suara sebanyak 8.564. Wajah baru dari PKS, tampil Ketua DPW PKS Sumbar Trinda Farhan Satria dari Dapil 1 dengan suara sebanyak 10863 suara. Walau kurang yang didapatkan jika dibanding pemilu 2005, tapi PKS masih dapat membentuk satu fraksi.

Sedangkan Partai Demokrat walau tampil sebagai partai pemenang, hanya memunculkan Eldi Sutrisno untuk periode akan datang di DPRD Sumbar. Selebihnya merupakan wajah baru, mulai dari Yultekhnil (26.286 sura), Ermawati Tanjung (11.122 suara), Suwirpen (9557 suara), Buzarman (6.437 suara), ke empatnya dari Dapil 1 Sumbar. Dari Dapil 2 Sumbar ada Novril Anas (11.673 suara). Dari dapil 3 Sumbar, wajah baru Demokrat ada Liswandi (17.347 suara), Ardkadius Dt. Intan Bano (11090 suara). Dari dapil 4 Sumbar ada M. Nurnas (16015 suara), Nofirzon (16607 suara), dan Zahara Hasni (13.092 suara). Sementara di dapil Sumbar ada Dodi Delvi (25.679 suara), Syamsul Bahcri Yahya (9.638 suara) dan Hasranita (5.763 suara)

Partai Hanura sebagai partai baru dapat pula menempatkan caelgnya dengan sisa-sisa suara di tiap dapil. Mereka yang terpilih yaitu, M. Tauhid (3.013 suara), Haswan BE (6330 suara), H. Marlis (7.788), Dedi edwar (6.925 suara), Sunarno Gani (4250 suara). Partai Gerindra juga menempatkan empat calegnya untuk DPRD Sumbar, yaitu Abel Tasman (2.003 suara), Zulkifli Jailani (5.413 suara), Darmawi (6.381 suara) dan Ismarni (2.299 suara). Ke empatnya duduk juga dengan sisa suara.

PDI-P yang sebelumnya diperkirakan tidak dapat bertambah mendapat tiga kursi. Partai itu menempatkan Rizanto Algamar (5.099 suara) Syahrial BsC (2.611 suara), danAgus Susanto (7.707 suara). Terakhir PBR menempatkan dua kadernya, yakni Ir. Bachtul (6154 suara) yang sebelumnya merupakan kader dari PAN yang pindah ke PBR, serta Ilson Cong dari Dapil 5 Sumbar juga mendapat suara sebanyak 7819 suara.

Jika dilihat dari suara caleg, maka tidak satupun caleg yang mencapai angka Bilangan Penghitungan Pemilih (BPP). Sementara, caleg yang tampil memukau, tentunya dengan suara di atas 20 ribu juga tidak banyak. Yang muncul hanya Yultekhnil, dan Dodi Delvi dari Partai Demokrat, serta M. Asli Chaidir dari PAN. Asli Chaidir sendiri dinilai telah berhasil menyelematkan PAN dari keterpurukan, karena sebelumnya diprediksi bahwa PAN akan merosost tajam di Sumbar. (rud)

Inilah caleg yang akan duduk di DPRD Sumbar periode 2009-2014

PARTAI DEMOKRAT

NO

NAMA

SUARA

ASAL

1

YULTEKHNIL

26386

DAPIL 1

2

ERMAWATI TANJUNG

11122

DAPIL 1

3

SUWIRPEN

9557

DAPIL 1

4

BUZARMAN

6437

DAPIL 1

5

ELDI S DT INTAN BATUAH

13588

DAPIL 2

6

NOVRIL ANAS

11673

DAPIL 2

7

LISWANDI

17347

DAPIL 3

8

ARKADIUS DT INTAN BANO

11090

DAPIL 3

9

M. NURNAS

16015

DAPIL 4

10

NOFRIZON

16697

DAPIL 4

11

ZAHARA HASNI

13092

DAPIL 4

12

DODI DELVI

25679

DAPIL 5

13

SYAMSUL BACHRI YAHYA

9638

DAPIL 5

14

HASRANITA

5763

DAPIL 5

PARTAI GOLKAR

NO

NAMA

SUARA

ASAL

1

ZAILIS USMAN

5594

DAPIL 1

2

ASRIL KASOEMA

10571

DAPIL 2

3

SAIDAL MASFIYUDDIN

14100

DAPIL 2

4

IRDINANSYAH TARMIZI

19999

DAPIL 3

5

MUSMIAZER DT GAMUAK

9243

DAPIL 3

6

LEONARDY HARMAINY

18497

DAPIL 4

7

SITI IZZATI AZIZ

7575

DAPIL 4

8

YULMAN HADI

15321

DAPIL 5

9

ZULKENEDI SAID

10116

DAPIL 5

PKS

NO

NAMA

SUARA

ASAL

1

TRINDA FARHAN SATRIA

10863

DAPIL 1

2

MOCHLASIN

6843

DAPIL 2

3

SULTANI

9396

DAPIL 3

4

RAFDINAL

12641

DAPIL 4

5

MUSLIM M YATIM

8564

DAPIL 5

PPP

NO

NAMA

SUARA

ASAL

1

ASWANIL ASMARA

7152

DAPIL 2

2

SYUKRIADI SYUKUR

4892

DAPIL 3

3

MARTIAS TANJUNG

4261

DAPIL 4

4

DEDRIZAL

9530

DAPIL 5

HANURA

NO

NAMA

SUARA

ASAL

1

M. TAUHID

3013

DAPIL 1

2

HASWAN BE

6330

DAPIL 2

3

H. MARLIS

7788

DAPIL 3

4

DEDY EDWAR

6925

DAPIL 4

5

SUNARNO GANI

4250

DAPIL 5

GERINDRA

NO

NAMA

SUARA

ASAL

1

ABEL TASMAN

2003

DAPIL 1

2

ZULKIFLI JAILANI

5413

DAPIL 2

3

DARMAWI

6381

DAPIL 3

4

ISMARNI

2299

DAPIL 4

PAN

NO

NAMA

SUARA

ASAL

1

MHD ASLI KHAIDIR

21614

DAPIL 1

2

INDRA DT RAJO LELO

12970

DAPIL 1

3

ISRAR JALINUS

6758

DAPIL 2

4

LELA PUJIANTI

5522

DAPIL 3

5

ARTATI

6702

DAPIL 4

6

MUZLI M NUR

8123

DAPIL 5

PBB

NO

NAMA

SUARA

ASAL

1

MASWAR MASUD

5294

DAPIL 2

2

DJONIMAR BOER

6229

DAPIL 4

3

SUPARDI

4070

DAPIL 5

PDI-P

NO

NAMA

SUARA

ASAL

1

RIZANTO ALGAMAR

5099

DAPIL 3

2

SYAHRIAL B.Sc

2611

DAPIL 4

3

AGUS SUSANTO

7707

DAPIL 5

PBR

NO

NAMA

SUARA

ASAL

1

IR BACHTUL

6154

DAPIL 2

2

ILSON CONG

7819

DAPIL 5

Heboh Ular Raksasa di Kalimantan

•Minggu, Februari 22, 2009 • 82 Komentar
Ular Raksasa

Ular Raksasa

BARU-BARU ini, muncul sebuah foto udara yang membuat heboh Malaysia. Seekor ular raksasa berenang di Sungai Baleh, Sibu, Serawak, bagian utara Kalimantan yang masuk wilayah Malaysia. Hiii…ADVERTISEMENT Sebuah foto ular raksasa terlihat berenang melenggak-lenggok di sebuah sungai tropis yang dikelilingi oleh hutan gambut. Ular berwarna hitam itu sangat besar, hampir memenuhi sungai yang terletak di tengah-tengah hutan rawa yang rimbun. Air beriak di kiri kanannya. Kabarnya, foto itu diambil dari sebuah helikopter, 11 Februari 2009 lalu. Foto itulah yang menjadi perdebatan luas di Malaysia saat ini. Kalimantan memang memiliki ular-ular raksasa. Namun selama ini, ular yang besar yang baru ditemukan adalah sejenis sanca atau python atau masyarakat Kalimantan menyebutnya ular sawah, yang panjangnya belasan meter. Namun ular yang terlihat di foto dan beredar luas di internet, termasuk Youtube, jauh lebih panjang dan besar dibanding temuan python selama ini. Diperkirakan panjangnya 100 kaki atau sekitar 33 meter. Gambar tersebut diambil oleh anggota tim wilayah bencana banjir yang kemudian diterbitkan oleh Utusan Sarawak, sebuah koran lokal, pekan lalu. New Straits Times di Kuala Lumpur, juga memuat foto tersebut yang kemudian dirilis oleh The Telegraph, Inggris. Ada juga yang tidak mempercayai foto itu dan menganggapnya rekayasa semata. Hal ini karena terlalu jauhnya pengambilan gambar ular tersebut. Benar atau tidak, foto itu sudah membuat masyarakat di sekitar Serawak, khususnya Sibu, ketakutan. Sebab, sungai itu merupakan urat nadi transportasi masyarakat selama ini. Berdasarkan legenda yang hidup di masyarakat setempat, memang dipercaya tentang adanya anaconda di kawasan tersebut yang bernama Nabau. Menurut kepercayaan, Nabau merupakan ular dengan panjang 80 meter dengan kepala naga dan tujuh lubang hidung. Masyarakat desa yang tinggal di sungai Baleh Borneo mempercayai makhluk mistik tersebut. Selain itu, masyarakat memang sering melihat ular-ular besar di kawasan itu. Nah, pertanyaannya, bila foto itu asli, apakah ular yang terlihat itu sejenis python atau anaconda? Hingga kini memang belum ditemukan adanya anaconda di Kalimantan, kecuali dalam film Anaconda: The Hunt For The Blood Orchid yang laris itu. Rekor ular terpanjang saat ini memang anaconda (eunectes) dari Amazone. Anaconda merupakan keluarga boa. Panjang anaconda yang baru ditemukan adalah 50 kaki, namun para ilmuwan percaya ada anaconda yang panjangnya 80 kaki, bahkan 100 kaki dari temuan kulit ular tersebut oleh sebuah ekspedisi ilmuwan Inggris tahun 1992. Dalam keluarga anaconda, menurut situs lingkungan Mongabay, yang terbesar adalah anaconda hijau (Eunectes murinus). Panjangnya mencapai 43 meter. Python Asia adalah ular terpanjang kedua. Ilmuwan menyebutnya Asiatic Reticulated Python (python reticulatus). Python terpanjang yang ditemukan di kawasan Kalimantan panjangnya 33 kaki, dan merupakan rekor dunia sanca terpanjang saat ini. Para ilmuwan percaya panjang python bisa mencapai 50 kaki atau sekitar 15 meter. Bedanya, anaconda lebih langsing dan ahli berenang. Sementara python lebih gemuk dan hanya suka kelembaban, bukan di air. Anaconda menggigit mangsanya sampai mati sebelum menelan, sementara python menggunakan kekuatannya dengan membalut mangsa sampai tulang-belulangnya hancur atau tak bergerak lagi, kemudian ditelan bulat-bulat. Awal Februari, para ilmuwan menemukan fosil ular seberat sebuah mobil kecil. Ular itu diperkirakan bisa melumat binatang seukuran sapi. Monster sepanjang 45 kaki bernama Titanoboa sangat besar dan hidup dengan memakan buaya dan kura-kura raksasa. Beratnya mencapai 1,25 ton. Ia biasa merayap di sekitar hutan-hutan tropis Amerika Selatan 60 tahun silam. (yan/berbagai sumber)

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.