Profesionalitas dan Nurani

Kameramen TV saat melakukan profesionalitasnya

Kameramen TV saat melakukan profesionalitasnya

Profesionalitas bagi seorang pewarta foto maupun bagi kameramen TV sangat penting. Namun memiliki nurani sosial juga penting. Dua kalimat ini menjadi dilema bagi seorang pewarta foto dan kameramen TV dalam mengembankan tugasnya untuk mendapatkan hasil visual dan audio visual yang bagus dan berkualitas.

Belakangan ini berkembang tanggapan miring yang yang menilai pewarta foto dan kameramen TV tidak memiliki naruni sosial dalam mengembankan tugasnya. Kedua profesi ini dipandang hanya mementingkan pekerjaannya ketimbang menolong orang yang membutuhkan.

Salahsatu contoh, tragedi pembagian zakat di Pasuruan 15 September 2008 lalu yang menewaskan 21 warga. Dalam hasil jepretan beberapa pewarta foto maupun rekaman gambar dari kameramen TV menggambarkan betapa tragisnya proses pemberian zakat ini. Melihat gambar dan tayangan kejadian ini, sejumlah orang mulai menuding pewarta foto dan kameramen TV tidak memiliki hati nurani dengan membiarkan warga saling berdesakan dan berhimpitan hingga tewas. Bahkan permasalahan ini menjadi topik utama dalam Program Kick Andy di Metro TV beberapa waktu lalu.

Dalam program Kick Andy ini, sejumlah kameramen TV dan pewarta foto mengklarifikasi tudingan sejumlah orang dengan menjelaskan bahwa mereka telah berjuang sekuat tenaga untuk menolong korban. Namun kondisi yang tidak memungkinkan karena dipadati warga, mereka hanya bisa menolong sebagian warga yang berada di depan pagar.

“Sebelum ada orang pertama yang menyelamatkan korban, pewarta foto dan kameramen TV berkewajiban untuk menolong korban. Namun jika ada orang lain yang telah memberikan pertolongan, maka pewarta foto dan kameramen TV baru
bekerja untuk menunjukan profesionalitasnya,” ungkap salah seorang redaktur foto yang menjadi bintang tamu dalam program ini.

Ini salahsatu contoh kinerja pewarta foto dan kameramen TV. Hal inipun pernah kualami bersama rekan-rekan seprofesiku di Padang sewaktu berada di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Beberapa bulan lalu, kami yang biasa bersama dikagetkan dengan tabrakan beruntun yang terjadi di depan mata.

Meskipun kami berprofesi sebagai pewarta foto dan kameramen TV, namun tidak ada satupun yang tergerak hatinya untuk mengeluarkan kamera dan mengambil gambarnya. Bahu membahu kami berusaha menolong korban hingga ke rumah sakit. Setelah ditangani tim dokter, barulah kami mulai melakukan pengambilan gambar.

Jika dipikir-pikir, kecelakaan ini bisa dijadikan gambar ekslusif yang kami dapatkan. Namun kami juga manusia yang mempunyai nurani dan jiwa tolong menolong. Catatan singkat ini diharapkan bisa menjawab berbagai tudingan yang memojokan pewarta foto dan kameramen TV. ***

~ oleh iwanrakelta pada Kamis, November 20, 2008.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: