Profesi Yang Tersingkirkan

Untuk gambar yang bagus dan berkualitas pada saat pertandingan sepak bola, fotografer rela berpanas-panas hingga berjam-jam

Untuk gambar yang bagus dan berkualitas pada saat pertandingan sepak bola, fotografer rela berpanas-panas hingga berjam-jam

Semua orang bilang kalau seseorang yang hobi atau menggantungkan hidupnya dengan kamera itu dibilang fotografer. Seorang juru kamera khusus pernikahan disebut juga fotografer. Fotografer amatiran juga masih dikatakan fotografer.

Di media cetak pun sering dikatakan seperti itu. Padahal tidak semua fotografer memiliki keahlian untuk menonjolkan news atau berita dalam bentuk berita foto. Lalu apakah nama yang cocok bagi seseorang yang bergelut di bidang foto untuk media cetak…?

Aku beranggapan, sebutan yang paling cocok bagi fotografer untuk media cetak adalah “pewarta foto”. Pewarta foto lebih memfokuskan ke berita melalui foto, yang tidak lazim dilakukan oleh fotografer amatiran atau fotografer sejenisnya. Nama inipun sebenarnya telah pernah digaungkan oleh sejumlah juru foto media cetak maupun media online tingkat nasional. Namun belum menggema ke masyarakat luas.

Apapun namanya, profesi fotografer atau pewarta foto masih tetap disingkirkan oleh berbagai kalangan. Kehadiran mereka seolah-olah kurang dihargai. Sebagai salahsatu contoh, fotografer amatiran selalu mendatangi setiap acara penting.

Fotografer ini malah sering berdebat dengan pembeli dengan alasan kemahalan. Apa yang mendasari harga foto itu mahal..? Memang proses pencetakannya boleh dibilang murah. Tapi apakah tidak lumrah kalau dijual diatas harga standar karena faktor momen, resiko kerugian dan faktor tenaga..? Mungkin momen penting ini cuma sekali dilakukan seumur hidup. Jadi bisa dikatakan, yang membuat mahal itu adalah momennya.

Contoh lain, sebagian besar liputan yang dilakukan wartawan dengan fotografer dari media cetak yang sama, pihak yang berkepentingan selalu mengutamakan wartawan ketimbang fotografer. Apakah ini pantas untuk dibeda-bedakan…?

Aku pernah bertanya ke banyak orang, mungkin jumlahnya telah mencapai ratusan. Setiap kali ditanya, apa yang dilihat pertama kali ketika memegang majalah, surat kabar atau media visual lainnya. Hampir seratus persen menjawab, yang pertama dilihat adalah nama media dan foto. Sementara berita, selalu menjadi urutan terbawah. Lalu kenapa dimata sejumlah orang, tukang fotonya malah jadi urutan terakhir…?

Apakah memang kualitas foto tidak seperti yang diinginkan…? Atau banyakkah yang tidak mengerti bagaimana membaca sebuah foto sehingga kurang memaknai sebuah foto…? Saya yakin, jawaban rekan-rekan semua pasti beragam. Semuanya memiliki penilaian dan pandangan yang berbeda. Yang jelas juru foto adalah pahlawan dokumentasi hingga akhir zaman.***

~ oleh iwanrakelta pada Jumat, November 21, 2008.

5 Tanggapan to “Profesi Yang Tersingkirkan”

  1. Setuju bro. Tapi jangan hanya curahan hati dong, mari kita teliti.

  2. siapa bilang fotografer adalah profesi yang terpinggirkan…
    mereka adalah satu bagian penting dan utama dari sebuah berita,,,
    dari sebuah foto semua bisa tergambar dan berbicara,,
    seperti yang dibahas dalam kick Andy…
    kayaknya lebih keren fotografer deh…

  3. Terpinggirkan? Sapa bilang…
    Dia berada di depan, ketika wartawan dibelakang..
    Dia pelengkap dari suatu peristiwa.
    Dia Sejuta Berita…

    Benar si igoy..Diteliti dululah pak…

  4. Foto grafer punya makna yang banyak bisa tukang foto studio, perkawianan/sunatan, n bisa fotografer media cetak. Sedangkan Pewarta Foto emang masih agak aneh tapi lebih khusus kayaknya nama itu untuk orang yang beraktivitas mengambil gambar untuk kepentingan berita.
    Kalau di daeah belum ada fotografer khusus buat media cetak, biasanya ya wartawan bawa kamera juga (minimal mini camera)
    Gak ada sih bedanya wartawan dengan pewarta foto jika tujuannya mengingkapkan sesuatu dalam bentuk berita. jadi gak ada yang utama, sama saja toh.(dandi)

  5. Kebanyakan media apalagi di daerah mengganggap mengampil gambar itu gampang. tinggal “klik”. Mereka ga tau kalau jurnalis foto rela panas-panasan menunggu moment. apalagi kalu yng bekerja sebagai freelance faktor resiko ga sebandimg dengan bayaran. padahal bisa aja kamera pecah ditimpuk demonstran.. Kebanyakan media di daerah lebih suka curi gambar di internet ketimbang bayar lebih untuk jurnalis foto.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: