Tsunami Padang

Peta Longsor Bawah Laut

Peta Longsor Bawah Laut

“Tsunami itu pasti melanda ke Kota Padang. Namun kapan waktunya tidak bisa ditentukan….” Pernyataan seperti ini bukan suatu hal yang baru lagi, karena ungkapan ini selalu didengungkan oleh berbagai kalangan, termasuk bagi para para pakar dan peneliti terkait, maupun oleh masyarakat umum yang tidak mengerti apa-apa tentang teori tsunami.

Mengungkap apa yang terjadi didasar laut perairan Sumbar yang berfokus pada perairan barat Kepulauan Kabupaten Mentawai yang diprediksikan sangat berpotensi terjadinya tsunami, sejumlah peneliti dari luar negeri maupun dari tingkat nasional sendiri telah melakukan upaya penelitian dengan berbekal teori, sejarah, sejumlah alat pendukung lainnya maupun dengan peralatan alat apa adanya.
John McClosky, profesor lingkungan dari Universitas Ulster Inggris, pernah mengatakan bahwa dua gempa besar bisa menciptakan gelombang laut setinggi 10 meter di sepanjang Pantai Sumatra. Kota Padang termasuk salahsatu yang terkena dampak tsunami.
Pakar gempa dari Pusat Penelitian Geoteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman Natawidjaja, juga pernah mengatakan kawasan Mentawai, Padang, Bengkulu dan daerah barat Sumatra lainnya sangat berpotensi gempa besar yang bisa diiringi tsunami di Mentawai. Gempa yang berpusat di sekitar Mentawai akan menimbulkan tsunami yang bakal menerjang ibukota Sumatera Barat dalam waktu 10 menit setelah gempa terjadi.
Ancaman gempa besar dan tsunami di pantai barat Sumatera ini, menurutnya, bukan hanya datang dari Pulau-pulau Pagai Utara dan Pagai Selatan, tapi juga pulau lain di gugusan Kepulauan Mentawai, yaitu Pulau Sipora yang pernah terguncang gempa tahun 1600-an dan Siberut di tahun 1797.
Sementara itu, Tim peneliti Indonesia-Prancis yang dimotori Haryadi Permana (peneliti di Pusat Penelitian Geotekonologi LIPI), Satish Singh (profesor dari Institut de Physique du Globe Paris) beserta 13 peneliti lainnya yang memimpin penelitian kelautan Pre-Tsunami Investigation of Seismic Gap (PreTI-Gap) mengatakan, mereka menemukan bekas megalongsor di sebelah timur Siberut.
Diduga longsor itu penyebab tsunami yang menerjang Padang 1797 lalu. Terlebih ditemukan pula backthrust atau sesar gempa di antara Kepulauan Mentawai dan daratan Sumatera, sesar yang sama yang diduga menyebabkan Pulau Nias saat ini “nungging” ke arah timur, berlawanan dengan efek tumbukan antarlempeng benua di zona subduksi di sebelah baratnya. Ia mengatakan, bahaya longsor di tebing dasar laut dekat Padang, berpotensi mengundang tsunami.
Pakar dari Amerika Prof. Sieh, yang berbicara di San Francisco, AS, di Pertemuan American Geophysical Union Fall, juga mengatakan kecemasan para pakar kini difokuskan pada berbagai kejadian yang masih berlaku, ke kawasan yang dikenal sebagai potongan Kepulauan Mentawai.
Zona ini telah mengalami gempa bumi raksasa setiap kira-kira dua abad sekali dan kini mendekati akhir dari rangkaian gempa bumi itu. Prof. Sieh mengatakan tegangan yang terus menumpuk di kawasan itu merupakan bukti dari perilaku garis pantai sebagian ada yang menjadi tenggelam dari permukaan air.
Kenyataannya, lempeng-lempeng itu bergerak dalam bentuk ‘stick-slip,’ yang artinya tanah pada ujung lempeng yang lebih besar dari lempeng yang keberatan menolaknya sehingga terjadi pergeseran. Lempeng besar itu tertolak ke bawah sebelum secara tiba-tiba dia tergelincir kembali ke atas, sehingga menimbulkan gempa bumi besar.
Beberapa survei yang dilakukan di sepanjang Sumatra menyusul gempa bumi 26 Desember 2005 dan 28 Maret 2006 telah mengungkapkan bahwa pulau-pulau karang telah bermunculan ke permukaan laut seperti daratan.
“Jika anda lihat lebih jauh ke selatan, pohon-pohon bakau dan ciri-ciri pantai masih terlihat di air, mereka belum bangkit. Jadi, kita tahu penegangan masih berakumulasi, jaringan kerja GPS kami memberitahu kami itu masih berakumulasi,” kata Prof. Sieh menjelaskan.
Terakhir, penelitian prediksi tsunami di Sumbar ini dilakukan oleh Tim Survei Bathymetry yang diketuai oleh Dr. Imam Mudita pada akhir November 2008. Ia mengatakan, dangkalnya dasar laut antara Pulau Sipora dengan Pulau Siberut berpotensi besar terhadap tsunami. Namun untuk Kota Padang diprediksikan tsunami tidak sedahsyat yang di Aceh, karena sebelah barat perairan Mentawai memiliki terumbu karang yang bisa meredam kerasnya ombak.
Semua pernyataan dan penelitian yang beralasan ini patut kita hargai. Untuk pengetahuan, mari kita telusuri kembali sejarah tsunami di Kota Padang.
Dari rentetan catatan sejarah yang begitu panjang, terpahat dalam terumbu karang yang bertebaran di perairan Kepulauan Mentawai, pesisir ibukota Sumatera Barat ini. Terbukti bahwa tsunami pernah menerjang Padang pada 10 Februari 1797 akibat gempa bermagnitude momen 8,4, hingga menelan sekitar 300 korban jiwa. Serbuan kedua menurut rekaman terumbu karang menunjuk pada 29 Januari 1833 dengan kekuatan 9,0 hingga mengakibatkan Pagai Selatan mengalami pengangkatan 2 hingga 3 meter.
Zona kegempaan tahun 1883 ini overlap dengan zona yang mengalami gempa tahun 1797. Zona gempa yang “bergerak” ketika gempa tahun 1797 itu lebih luas ke arah barat laut hingga mencakup Siberut.
Pada tahun 2007, terjadi pengangkatan pulau di Mentawai. Pengangkatan itu, bukan disebabkan oleh gempa berskala 7,9 SR yang terjadi pukul 18.10 WIB hari Rabu 12 September 2007 tetapi beberapa jam setelah itu, yaitu gempa berkekuatan 6,6 SR (menurut PGN-BMG) yang berepisentrum di utara Sipora. Sipora adalah pulau yang diapit oleh Siberut dan Pagai Utara dan Selatan.
Berdasarkan data dari antena GPS (Global Positioning System) yang terpasang di Pulau Pagai Selatan dan pemantauan di lapangan, diketahui bagian timur pulau itu mengalami kenaikan 30 cm, sedangkan bagian baratnya menurut laporan pengamatan di lapangan kenaikannya setengah meter.
Sedangkan Sipora menurut laporan komunitas peselancar di daerah itu mengalami kenaikan beberapa puluh sentimeter.
Sebaliknya kawasan pantai antara Kota Bengkulu hingga Muko-Muko terjadi penurunan 15 cm. Mekanisme naiknya pulau-pulau di pesisir Padang dan turunnya kawasan Pantai Bengkulu, Jambi, hingga Padang itu merupakan kejadian yang berulang setiap 200 tahunan setiap terjadinya gempa besar. Karena gempa itu sesungguhnya merupakan fenomena yang menunjukkan terjadinya proses pelentingan tepi lempeng Benua Eurasia yang tertekan oleh subduksi lempeng Samudra IndoAustralia. Kecepatan desakan lempeng itu sekitar 60 mm per tahun.
Selain Padang, pada tanggal 24 November 1833, Bengkulu pun diguncang gempa dan disapu tsunami. Hal ini merupakan pengulangan 15 tahun sebelumnya (18 Maret 1818).
Catatan ini bukan untuk menakut-nakuti masyarakat semuanya. Namun semua orang perlu mengetahui kondisi yang terjadi di daerah sendiri, agar bisa waspada dan mampu melakukan sesuatu untuk menyalamatkan diri jika terjadi bencana tsunami. Ini menyangkut masalah nyawa seseorang, jadi baik buruknya informasi, wajib diketahui semua orang.

~ oleh iwanrakelta pada Minggu, November 30, 2008.

5 Tanggapan to “Tsunami Padang”

  1. terima kasih atas info anda dan apakah masih ada berita terutama foto mengenai kondisi dasar laut di kep mentawai?

  2. halo bos.. kalau tsunami, yo kama wak ka lari lai..

  3. Mulai sekarang, kita bangun tower baja yang kokoh dan tinggi di tepi pantai. Nanti kalau ada tsunami kita panjat aja tower itu. Tsunaminyakan cuma numpang lewat doang di bawah kita…diatas tower kita foto-foto. Latarnyakan asyik…he..he…

  4. ondeh mandeh,, rumah awak dakek bana samo pantai….
    tapi, kok iyo ado tsunami dak bisa lari kama-kama doh…
    cukup berlindung kepada allah… Kalo sudah ajal, tsunamai mah gak ada apa-apa nya…

  5. Samo awak bu…rumah awak dakek pantai lo…kecek pemerintah awak ndak buliah takuik bakalabiahan…keceknyo intai gedung tinggi, panjek gedung tu kok iyo tajadi tsunami..kalau cewek baa ka mamanjek gedung…he..he…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: